Tentang Situs Ini

Situs ini berisi pelajaran sederhana mengenai konsep keperawatan. Disarikan dari perpaduan teori dan praktek berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan sesama rekan perawat sewaktu bekerja di Rumah Sakit dan bekerja sebagai Staff Pengajar di sebuah Sekolah Keperawatan. Tag line yang utama adalah PERAWAT TIDAK HANYA BERTEORI.....Mari bangga dan bersama memajukan perawat Indonesia.

Whats Up ^_^

Silahkan kunjungi secara berkala. Karena tiap hari akan ada update an.

Suntikan via Intra Selang


Nyuntik lewat selang (atau karetnya?????), merupakan hal yang sangat rutin dikerjaan oleh perawat. Tindakan keperawatan paling banyak, nomer satu, dari semua tindakan keperawatan. Sebuah konsep yang aneh, karena sesungguhnya, konsep ini TIDAK PERNAH ATAU JARANG diajarkan dan diujikan di sekolah-sekolah perawat. Para perawat hanya diberikan konsep Intravena, Intra Muscular, Intra Cutan Sub Cutan tapi tidak pernah mengenal dengan lebih dalam mengenai intra selang. Nah lho……Bagaimana seharusnya?????

Bagaimanakah Cara Menyuntik Intra Selang atau Lewat Selang. 

Sebetulnya kata intra selang itu sendiri merupakan istilah baru yang tercipta di kalangan para perawat untuk mendefinisikan suatu tindakan penyuntikan melalui karet selang infus, yang merupakan bagian dari teknik penyuntikan Intravena. Hal ini dimaksudkan sebagai pengganti penyuntikan intravena berulang (pada pasien rawat inap), yang berarti mencegah/mengurangi rasa sakit dari penyuntikan berulang. Pada dasarnya, prosedur yang digunakan sama dengan prosedur penyuntikan yang lain. Hanya karena penyuntikannya melalui karet selang infus, maka akan lebih banyak dibahas mengenai keunikan dari tindakan ini.

Banyak sekali akibat buruk yang ditimbulkan akibat teknik penyuntikan yang tidak benar. Terutama phlebitis. Dan anda tahu rasanya phlebitis. Saya rasa para perawat akan langsung insyaf dan menyadari kesalahannya untuk tidak melakukan tindakan keperawatan secara sembarangan kalau sudah merasakan sakitnya phlebitis he….3x. Berkenaan dengan hal tersebut, ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dan harus kita lakukan pada waktu kita menyuntik lewat karet selang infus.

a. Selalu Cek kelancaran tetesan infus sebelum menyuntik pasien
Hal yang pertama kali, yang sangat wajib kita lakukan pada waktu akan menyuntik pasien (selain 5 benar tentunya) adalah cek ulang tetesan infus. Kenyataan di lapangan, banyak sekali perawat yang lupa memeriksa kelancaran aliran infus sebelum melakukan tindakan. Karena ingin cepat langsung saja melakukan penyuntikan. Hal ini sangat bebahaya, karena apabila kita memaksakan penyuntikan dengan aliran tersumbat dapat menimbulkan akibat yang serius, yaitu salah satunya adalah apabila aliran infus tersumbat dikarenakan oleh bekuan darah, bekuan darah tersebut dapat lepas ke pembuluh darah menjadi emboli dan menyumbat di pembuluh darah kapiler. 

b. Pergunakan teknik yang tepat dalam menyuntik
             Dengan menghentikan aliran infus vs tidak menjalankan aliran infus
  • Pada dasarnya, ada dua cara menyuntik intra selang. Yang pertama dengan cara mengehentikan aliran infus. Cara ini merupakan cara umum yang dilakukan oleh banyak perawat. Teknisnya, ketika seorang perawat akan menyuntikan obat ke pasien lewat intra selang, perawat menghentikan aliran infus dengan cara mematikan aliran infus atau melipat selang infus. Berbagai buku perawat mengajarkan tentang cara ini. 
  • Kalau kita tinjau lebih lanjut, ada beberapa kelebihan dan kekurangan dengan teknik ini. Banyak perawat berargumen bahwa alasan mereka menghentikan aliran infus, atau melipat selang adalah agar obat-obatan langsung masuk, tidak naik ke atas. Hal ini sangat penting untuk memastikan obat masuk dengan cepat. Apalagi dalam situasi emergensi, di mana obat-obatan seperti adrenalin harus langsung masuk. Akan tetapi, teknik yang pertama ini mempunyai beberapa kelemahan atau kekurangan. Yang paling utama adalah rasa sakit.
  • Nyeri/sakit merupakan salah satu diagnosa keperawatan aktual yang paling sering ditemukan. Penyuntikan dengan menghentikan aliran infus mempunyai efek samping rasa sakit. Karena, obat-obatan yang disuntikan langsung masuk ke aliran darah. Hal ini tidak dianjurkan apabila kita menyuntikan obat-obatan yang agak keras. Seperti antibiotik dan antiemetik. Lebih lanjut lagi, apabila hal ini dilakukan terus menerus, akan mempercepat terjadinya phlebitis/peradangan, karena dinding pembuluh darah vena dapat teriritasi oleh obat.
  • Cara yang kedua adalah dengan tidak menghentikan aliran infus. Penyuntikan dilakukan dengan infus yang terus berjalan. Teknisnya adalah, waktu penyuntikan aliran infus agak dipercepat, sampai dengan 40 gtt/menit. Keuntungan yang utama adalah karena obat dimasukkan bersamaan dengan cairan infus, viskositas obat menjadi turun, dan pasien tidak begitu merasa nyeri. Walaupun, banyak perawat beralasan bahwa menyuntik dengan menghentikan aliran infus tidak jauh berbeda, karena viskositas obat telah jauh berkurang dengan pengenceran, menyuntik obat dengan tidak menghentikan aliran infus mengurangi tekanan, dan hal itu mengurangi iritasi obat terhadap dinding vena.
  • Salah satu kelemahannya, apabila terlalu cepat menyuntikkannya, maka cairan akan naik ke atas. Dan tindakan ini, tidak boleh dilakukan untuk pemberian obat secara cepat, seperti pemberian adrenalin pada saat emergensi.
  • Berbeda dengan teknik pertama, belum banyak (Mungkin sudah ada) penelitian yang dilakukan mengenai efisiensi tindakan penyuntikan obat melalui selang yang aliran infusnya tidak dihentikan. Belum ada evidence base yang jelas mengenai konsep yang kedua ini. Karena, apabila ditinjau dari segi keilmuan, masih banyak yang harus diteliti, seperti apakah tindakan menyuntik dengan cara ini (bersamaan dengan aliran infuse) tidak mengurangi efek obat?berpengaruh terhadap waktu paruh obat? cairan apakah yang diperbolehkan? dsb.
  • Akan tetapi, berdasarkan pengalaman, apabila yang disuntikkan “hanya” obat yang umum, seperti antibiotik “standar” (cefotaxim mungkin…….??.) dengan cairan yang umum dipakai (RL, NACL) tindakan menyuntik obat dengan tidak menghentikan aliran infus dapat menjadi pilihan yang lebih baik, karena lebih “tidak” mengakibatkan nyeri kepada pasien, dan itu berarti mengurangi resiko terjadinya phlebitis.
c. Perhatikan durasi penyuntikan
Salah satu hal yang paling sedikit referensinya dalam intra selang adalah durasi penyuntikan. Tidak ada panduan yang jelas mengenai berapa lama durasi penyuntikan intra selang (kecuali dalam keadaan emergensi tentunya, pastilah harus cepat). Banyak referensi yang hanya menyampaikan kata “pelan-pelan”
Seorang perawat senior pernah menganjurkan bahwa, mengenai lama waktu penyuntikan, samakan saja dengan kebiasaan aliran infus. Maksudnya apa? Mungkin seperti ini. Penyuntikan intra selang pada dasarnya dilakukan sebagai pengganti IV jangka panjang, yang mana beresiko lebih nyeri, maupun penyuntikan berulang. Infus yang dipasang biasanya berkecepatan 20 gtt/mnt atau 1 cc/menit (untuk yg dewasa/macrodrip). Oleh karena itu, suntikkan saja dengan kecepatan 20 gtt/mnt atau 1 cc/mnt. Kalau kita akan menyuntik 5 cc, ya 5 menit. Tapi, teori ini pun belum “evidence base”.
Teori lain mengatakan dengan melihat respon pasien. Tetap kita suntikkan perlahan, dengan bertanya dan meminta pandangan pasien, apabila terlalu cepat dan terasa nyeri, tolong disampaikan supaya kecepatan penyuntikan diturunkan. Dan kembali, hal inipun belum jelas.

Terlepas dari berbagai kekurangan, baik referensi maupun penelitian mengenai penyuntikan intra selang, semua tindakan keperawatan seyogyanya tetap berdasarkan kepada asas caring kepada pasien. Ketika dihadapkan kepada pilihan yang beresiko, pilihlah yang resikonya paling sedikit. 

Selamat menyuntik. ^_^

Ketik E-mail Kamu Disini Untuk Mendapatkan Materi Kuliah Terbaru -(Askep,Askeb,Info Kesehatan,Bisnis online, Keperawatan,Kebidanan,dll):

Delivered by FeedBurner

0 komentar:

Posting Komentar



 

Belum Menemukan Yang Anda Cari, Baca Juga Yang Ini :

Sponsor Blog :