Tentang Situs Ini

Situs ini berisi pelajaran sederhana mengenai konsep keperawatan. Disarikan dari perpaduan teori dan praktek berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan sesama rekan perawat sewaktu bekerja di Rumah Sakit dan bekerja sebagai Staff Pengajar di sebuah Sekolah Keperawatan. Tag line yang utama adalah PERAWAT TIDAK HANYA BERTEORI.....Mari bangga dan bersama memajukan perawat Indonesia.

Whats Up ^_^

Silahkan kunjungi secara berkala. Karena tiap hari akan ada update an.

Mengkaji Nyeri Pasien dengan Menggunakan VAS & MPQ




Ada dua cara dalam mengkaji nyeri yang paling umum digunakan oleh perawat.yaitu dengan menggunakan VAS (Visula Analogue Scale) dan McGILL PAIN QUESTIONNAIRE (MPQ) 

a. VISUAL ANALOGUE SCALE (VAS) 
Metoda pengukuran: 
  1. Buat garis lurus sepanjang 10 cm dan berikan tanda 0 pada ujung kiri garis dan 10 pada ujung kanan garis. Berikan penjelasan pada titik nol menunjukkan tidak ada rasa nyeri sama sekali dan sebaliknya pada titik 10. 
  2. Instruksikan pada pasien untuk membuat tanda [ | ] yang memotong rentang garis dengan skala 0 – 10 cm di atas. 
  3. Ukurlah dari titik 0 ke arah tanda garis tersebut. 
  4. Penilaian: 
a. VAS <> 7 : Nyeri berat 

Metode ini tidak jauh berbeda dengan metode pertanyaan, apabila 0= tidak nyeri, 5 sangat nyeri, berapakah rentang nyeri yang anda rasakan? Begitu pertanyaan perawat kepada pasien. Adapun perbedaannya serta kelebihannya :
  • Rentang VAS dari 0-10 memungkinkan pengkajian yang lebih tergambar dari pada rentang 0-5
  • Perbuatan pasien member tanda pada kertas untuk menunjukkan tingkat nyerinya, lebih akurat daripada bertanya langsung kepada pasien.

b. McGILL PAIN QUESTIONNAIRE (MPQ) 
Nyeri,dalam keperawatan dikenal ada dua macam. Nyeri akut dan nyeri kronis. Apa itu nyeri akut dan kronis, tentu saja kita analisis salah satunya dari karakteristik yang kita temukan.
Kita tidak akan membahas banyak mengenai hal itu sekarang. Silahkan googling di internet untuk mendapatkan instrument pengkajian resmi ini. Penjelasan singkatnya, dengan teknik Mc Gill, kita dapat melihat nyeri dari berbagai aspek, dari bentuk nyeri, apa yang dirasakan, nilai dsb. 

Selamat mencoba

Read More......

Klasifikasi Gagal Jantung NYHA vs Intoleransi Aktivitas

Dalam memutuskan penatalaksanaan kepada pasien gagal jantung, dokter menggunakan sebuah konsep klasifikasi dari NYHA (New York Heart Association)/Perkumpulan Jantung New York. Klasifikasi ini berdasarkan tanda dan gejala pada pasien dalam kehidupannya sehari-hari.

Class

Gejala pada Pasien

Class I (ringan)

Tidak ada batasan dalam aktivitas fisik, Aktifitas yang biasa, tidak menimbulkan kelelahan, dada berdebar-debar serta dyspneu (nafas pendek)

Class II (ringan)

Batasan ringan dalam aktivitas fisik. Aktivitas yang biasa menimbulkan kelelahan, dada berdebar-debar serta dyspneu (nafas pendek)

Class III (sedang)

Batasan sedang dalam aktivitas fisik. Nyaman kalau beristirahat. Beraktivitas sedikit saja sudah menimbulkan kelelahan, dada berdebar-debar serta dyspneu (nafas pendek)

Class IV (berat)

Sudah tidak dapat beraktifitas dengan normal lagi tanpa ketidaknyamanan. Tanda-tanda gangguan pada system kardiovaskular muncul dengan kuat. Apabila pasien beraktifitas, ketidaknyaman akan langsung muncul

 Sebetulnya, kalau kita telaah lebih lanjut dari sudut pandang keperawatan, konsep NYHA di atas, berhubungan langsung dengan diagnosa Intoleransi Aktivitas. Yang unik dalam pengklasifikasian ini adalah, dokter melihatnya dalam sudut pandang pasien, melihat respon pasien. Yang mana, konsep seperti itu sebetulnya adalah cara perawat dalam mengkaji dan diagnosa keperawatan.

Akan tetapi, kalau kita bandingkan, pada diagnosa “Intoleransi Aktivitas”, kita lihat belum ada tingkatan-tingkatan yang membedakan antara “pre” Intoleransi aktivitas dan mana yang “sudah” intoleransi aktivitas. Karena, berkaitan dengan konsep “batasan karakteristik” yang ada dalam diagnosa NANDA, apabila dibandigkan dengan NYHA, timbul pertanyaan, manakah diantara class di atas yang sudah “Intoleransi aktivitas” dan belum “Intoleransi Aktivitas”.

^_^


Read More......

Situs Asuhan Keperawatan di Internet : SEBUAH KESALAHAN BESAR !!! (bag 3. akhir)


1. Paradigma keperawatan jadi kabur dengan kedokteran. Mungkin hal itu salah satu faktor yang mendasari perawat akan terus menjadi asisten dokter. Karena pola pikir yang ditanamkan adalah pola pikir kedokteran yang membedakan pasien dengan diagnosa medis tanpa melihat respon pasien. Yaitu menyamakan antara pasien satu dengan pasien yang lain asal penyakitnya sama walaupun tahu, responnya berbeda.

2. Perawat jadi acuh tak acuh kepada pasien. Dengan memutuskan diagnosa terlebih dahulu, perawat jadi tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya respon pasien. Terutama berkaitan dengan diagnosa non biologis. Perawat menganggap remeh keluhan pasien ketika dia mengatakan tidak bisa tidur. Ketika bertemu dengan pasien yang mengatakan bosan, disuntik terus, perawat tidak peduli. Dan itulah cermin pembelajaran. Akibat terlalu terpusat kepada medis, perawat merasa di luar tindakan medis, hal itu bukan tugas perawat. Anda lihat di rumah sakit-rumah sakit, banyak perawat yang duduk-duduk (merasa) tanpa kerjaan, menunggu jam “nyuntik” pasien. 

3. Perawat jadi tidak tahu akan diagnosa profesi perawat itu sendiri. Ketika ditanya TB, perawat hafal. Ketika ditanya DHF, perawat dapat menjelaskan dengan lancar. Tapi apakah anda pernah mendengar tentang diagnosa ketidakberdayaan, takut, mengembara, tidak bisa memakai baju sendiri, resiko keracunan, siap untuk tidur lebih baik dsb. 
Hal itu dikarenakan semenjak kuliah, perawat tidak pernah diperkenalkan akan diagnosa profesinya. Selalu diagnosa medis. Jumlah mata kuliah yang membahas diagnosa keperawatan tidak memadai. Contohnya, dalam setiap laporan keperawatan, selalu nyeri (bahkan tidak tahu nyeri apa??) selalu jadi yang nomer satu dalam laporan. Diikuti oleh imobilisasi, ketidak seimbangan nutrisi dsb. Diagnosa selanjutnya yang non fisiologis hanya ada dua. Kurang pengetahuan dan cemas. 

Sungguh enak sekali para pembuat asuhan keperawatan langsung menentukan masalah pasien tanpa memberikan sebuah contoh yang nyata dan variatif.

4. Yang paling berbahaya adalah yang banyak mendownload materi dari internet tentang asuhan keperawatan adalah mahasiswa. Apabila sejak mahasiswa mereka telah diberikan konsep yang salah tentang membuat rencana asuhan keperawatan, tidak dibiasakan menilai respon pasien, berfikir kritis dsb. hal itu akan berdampak kepada dunia keperawatan selanjutnya.

Lalu bagaimana solusinya ???
1. Ketika kita (perawat) akan mempublish asuhan keperawatan dengan kasus penyakit tertentu tolong sertakan contoh kasusnya, berikan analisanya sampai dengan keluar diagnosanya. Pada intinya, gambarkan di dalam kasus tersebut respon pasien yang muncul. Baik secara biopsikososio maupun spiritual, sehingga kita bisa ikut belajar. Kita tidak perlu terpaku dengan jenis penyakit. Yang jelas yang harus lebih ditonjolkkan adalah keadaan dan respon pasiennya. Karena pada prinsipnya, apapun penyakitnya asal prinsip responnya sama, maka diagnosa yang keluar akan sama.

2. Apabila kita ingin mengetahui tentang teori perkembangan penyakit, kita dapat membacanya di buku-buku teks (textbook) seperti patofisiologi, patologi dsb. Akan tetapi, fokus kajian tetap respon pasien, bukan jenis penyakitnya. Dari patofisiologi penyakit pasien tersebut dapat kita analisa respon tubuh pasien tersebut terhadap penyakit.

3. Berikan contoh kasus yang variatif, dan memperkenalkan semua diagnosa keperawatan. Di semua cabang keperawatan, dari medikal bedah sampai dengan komunitas. Seperti contoh : seorang pasien merasa takut dia tidak akan sembuh dan itu mengganggu pikirannya, kira-kira diagnosanya apa??? Jawab: diagnosanya Fear (atau rasa takut). Jangan hanya nyerii…….saja yang di bahas.

4. Belajar menggunakan NANDA dengan benar. Setelah anda mampu melakukannya, Selanjutnya mengenai perencanaan terserah anda. Kita memaklumi bahwa belum ada model yang benar-benar “sahih” yang dapat dipakai dalam tataran aplikatif di rumah sakit. Kebijakan rumah sakit yang satu dengan lainnya cenderung berbeda-beda. Apakah anda memilih NIC NOC, atau memilih yang lain, terserah anda. Yang jelas sebagai landasan awal, diagnosanya dulu harus benar.

5. Yang paling penting, bagi yang suka memposting asuhan keperawatan dengan basis penyakit, bahkan sampai beratus-ratus, tolong ajarkan juga kepada mahasiswa khususnya yang sering mendownload mengenai prinsipnya. Basis penyakit sebetulnya bukan cara untuk menegakkan diagnosa dari sudut pandang keperawatan. Tetapi sebagai dasar untuk analisa diagnosa, karena diagnosa yang sama untuk penyakit yang sama belum tentu muncul berbarengan. Tetap evidence base nya tergantung bagaimana respon tubuh pasien. Dan hal itu pada umumya hanya berlaku pada respon tubuh/diagnosa fisiologis. Khusus pada pasien yang sadar, untuk respon pasien/diagnosa yang termasuk dalam ranah psikososio dan spiritual, tolong postingkan juga kasusnya dengan analisa diagnosanya. 

6. Kadang mahasiswa mendownload asuhan keperawatan untuk memenuhi tugas laporan. Mungkin, untuk laporan pendahuluan, teori dasar penyakit dapat langsung digunakan. (Walaupun, sebetulnya tinggal cari saja di textbook) akan tetapi, tolong diingat sekali lagi bahwa, diagnosa yang ada belum tentu muncul di pasien. Sebagai contoh sekali lagi, pada kasus kanker, mau kankernya dimanapun, di payudara, di mandibula, di kolon, titik tolak pengambilan diagnosa tetap pada respon pasien. Kanker yang metastasenya masih sedikit akan berbeda dengan yang sudah stadium akhir. Jadi base nya bukan penyakit saja/medis.

Thx.
Semoga bermanfaat

Read More......

Situs Asuhan Keperawatan di Internet : SEBUAH KESALAHAN BESAR !!! (bag 2)

Jadi, yang ingin ditegaskan disini adalah apapun penyakitnya, apabila pasien mempunyai respon tubuh yang sama, maka diagnosanya akan sama. Seperti contoh pada kasus gagal jantung pasien dapat ditemukan mengalami sesak, gagal ginjal-sesak, TBC-sesak, Asma-sesak, AIDS-sesak, SLE-sesak, Cedera Kepala-sesak, Pneumonia-sesak, Stroke-sesak, COPD-sesak, Kehamilan-sesak, marah-sesak dsb. Banyak penyakit yang menimbulkan akibat yang sama yaitu sesak.

Dan sebaliknya, belum tentu dalam satu penyakit diagnose bisa sama. Khusus untuk pasien sadar, kita dapat menemukan diagnosa psikologis, sosiologis dan spiritual selain biologi/fisiologis tentunya. Contohnya, tidak semua pasien demam berdarah merasa lelah. Tidak semua pasien gagal jantung merasa sesak, tidak semua pasien fraktur merasa nyeri (maksudnya mungkin merasa nyeri, tetapi ada situasi dimana rasa nyeri telah teratasi sehingga tidak diangkat menjadi diagnosa). 

Itu baru yang respon biologi/fisiologis, apalagi jika kita ingin mencari repon pasien/diagnosa yang termasuk psikososio dan spiritual. Hal itu sangat kondisional sekali. Untuk tahu pasien cemas, takut, khawatir, bingung, bosan dsb, kita harus langsung bertanya ke pasien. Belum lagi masalah yang dihadapi pada waktu pengkajian mengenai kekaburan data, pasien yang tidak kooperatif, hambatan komunikasi dsb. Terutama pada saat mengkaji spiritual pasien, itu merupakan ranah yang sangat sensitif.

Kembali ke pokok persoalan

Di banyak postingan tentang asuhan keperawatan, siapapun yang memposting, di situs apapun, pada umumnya, dimulai dengan judul asuhan keperawatan pada pasien……(Dx Medis) dan seterusnya. Isi dari postingan tersebut dimulai dengan penjelasan landasan teori penyakitnya yang kemudian dilanjutkan dengan diagnosa yang muncul. Sekilas, tidak masalah. Akan tetapi justru hal itu sangat berbahaya, Kenapa?? Mari kita bahas satu-satu.

1. Pada bagian teorinya sebetulnya tidak masalah, yang menjadi masalah terbesar adalah, kita sudah terlebih dahulu membuat diagnosa, menjudge pasien mempunyai masalah, padahal belum tentu. Di dalam ratusan postingan tentang asuhan keperawatan di internet, tidak pernah (atau jarang sekali) menyertakan laporan/gambaran kasus pasien. Sehingga kita tidak bisa menilai (atau membayangkan) bagaimana kondisi pasien sesungguhnya. contoh: Pada kenyataannya kondisi pasien DHF hari pertama, ketiga dan kelima sungguh berbeda. Kondisi pasien yang sama penyakitnya, beda agama, beda suku, beda pengetahuan mungkin responnya berbeda. Kita sebagai perawat di ajarkan untuk menilai respon pasien. Diagnosa keperawatan adalah respon abnormal pasien terhadap penyakitnya. Oleh karena itu agak kurang bijak (kalau tidak mau disebut salah besar) apabila kita menentukan respon pasien (bahasa lainnya diagnosa) tanpa mengkaji pasiennya (atau minimal membayangkan dengan membaca deskripsi kasusnya), 

2. Berbeda dengan diagnosa biologis yang dapat diprediksi sesuai dengan karakteristik penyakitnya, diagnosa dalam ranah psikososio dan spiritual merupakan diagnosa yang sangat individual. Sangat pribadi. Terutama spiritual. Sehingga kita tidak dapat menegakkan diagnosa tanpa melakukan pengkajian langsung pada pasien. Perlu kita ingat, dalam batasan karakteristik sebuah diagnosa, respon juga kita kaji bukan hanya verbal, tapi juga non verbal. Pasien dapat mengatakan bosan, tapi apakah non verbalnya “mengatakan” bosan?? 

3. Khusus untuk pengkajian spiritual, hal ini merupakan hal yang sangat sensitif. Sangat sulit mengkaji kebutuhan spiritual pasien, tanpa membina trust yang begitu dalam. Tidak semua orang dapat menerima ketika di tanya apakah anda sudah shalat atau belum?, kenapa anda tidak shalat. Sejauh mana pengetahuan anda tentang wudhu? Dan itu sama sekali tidak pernah dibahas dalam contoh asuhan keperawatan.

Bersambung ke bag. 3 (akhir)

Read More......

Situs Asuhan Keperawatan di Internet : SEBUAH KESALAHAN BESAR !!! (bag 1)


Kalau kita buka google, lalu kita ketikkan asuhan keperawatan……dst…, akan muncul berbagai macam link situs yang menyediakan materi asuhan keperawatan.
 
Silahkan mendownload, sudah ada sekian ratus asuhan keperawatan. selalu ada update an 
Begitu bunyi iklan yang berbayar.

Berbagai macam situs ada, dari yang berbayar maupun yang gratisan. Pada umumnya ditulis oleh perawat, dosen dan mahasiswa (atau non perawat juga), yang ingin menyampaikan ilmu, aktualisasi diri (mungkin yang diposting materi kuliahnya) dan membuat perawat lebih maju. Tujuan yang mulia sekali, dan seyogyanya diikuti oleh perawat yang lain. TAPI WASPADALAH !!!!……….pola pikir seperti itu (asuhan keperawatan di internet) justru bertentangan dengan kaidah keperawatan sesungguhnya.

Berbicara mengenai asuhan keperawatan, tentu saja tidak lepas dari 3 hal , teori membuat asuhan keperawatan itu sendiri, pola pikir yang dipakai serta keadaan pasien.

Asuhan keperawatan (askep) adalah gabungan dari tindakan komprehensif perawat pada saat menyelesaikan masalah pasien. Kaidahnya sama dengan proses ilmiah. Dimulai dengan pengkajian (pengumpulan data), penemuan masalah, perencanan, aplikasi dan kemudian di evaluasi. Berdasarkan sudut pandang keilmuannya keperawatan, sekali lagi keperawatan, bukan kedokteran.

Sesuatu yang dianggap masalah dalam perawatan pasien (atau yang sering kita sebut diagnosa keperawatan) dari sudut pandang perawat adalah respon pasien terhadap penyakitnya, bukan “penyakit” yang dideritanya. Jadi kembali lagi sebagai seorang perawat kita harus melihat respon pasien kepada penyakitnya bukan penyakitnya seperti yang dilakukan oleh dokter. Contohnya bagaimana? Misal pasien dengan penyakit tertentu jadi tidak bisa mandi. Gara-gara penyakitnya, pasien jadi tidak mampu ke toilet. Mungkin, dari sudut pandang dokter, itu bukan urusannya, karena masalah yang utama bagi dokter adalah penyakit pasiennya yang dia obati. Tapi bagi perawat, tidak mampunya pasien mandi itu menjadi masalah besar. Yang kita bicarakan disini adalah respon tubuhnya.

Pada kenyataannya, respon pasien terhadap penyakitnya itu bermacam-macam. Tergantung dari banyak hal. Menurut Gordon, ranah respon kebutuhan dapat dikategorikan menjadi 13 bagian. Tapi untuk memudahkan pembahasan, kita bisa membaginya dalam 4 kategori saja, yaitu biopsikososio dan spiritual.

Perlu kita ketahui bahwa, walaupun tehnik pengkajiannya sama, pendalaman informasi dan sudut pandang yang dilakukan oleh dokter berbeda. Dalam pengkajiannya, dokter mengumpulkan data sebanyak-banyaknya (setepat mungkin) yang kemudian dikumpulkan, dikaji, dianalisis yang mengerucut menjadi sebuah diagnosa. Contohnya : ketika bertemu pasien batuk lebih dari 2 minggu, keringat dingin malam hari, test mantouk positif. Gambaran rontgen paru blur dsb. Diagnosanya mungkin (atau pasti) TBC. 

Berbeda dengan dokter, cara mengkaji perawat berdasarkan keluhan pasien. Ketika pasien mengeluh sesak, ya diagnosanya sesak. Kalo sakit, ya sakit, klo bosan ya bosan. Trus kalau pasien keluhannya tidak punya uang?????ya diagnosanya tidak punya uang. Begitu simpelnya (khusus untuk pasien yang sadar). 

Tapi tentu saja kita sebagai perawat punya sudut pandang dan bahasa keilmuan. Sebagai contoh, ketika kita menemukan pasien mengeluh sesak , harus kita gali sebenarnya apa yang dimaksud dan dirasakan pasien dengan “SESAK” tersebut. Disinilah kita harus mengerti tentang konsep penyakit beserta konsep anatomi, fisiologi dan patologinya. Kita harus mengerti sebetulnya apa yang terjadi di dalam tubuh, yang kemudian menimbulkan “perasaan/respon tubuh” berupa SESAK. Kita tahu dalam ilmu patofisiologi bahwa sesak pada pasien dapat ditimbulkan akibat terjadi gangguan system pernafasannya. Apakah gangguannya di jalan nafas, apakah karena penumpukan secret, akibat transfer O2 dari alveoli ke darah terhambat atau akibat pusat nafasnya yang terganggu. Inilah yang disebut dengan etiologi. Dengan mengetahui alur permasalahannya, kita dapat merumuskan sebuah diagnosa. Sesak karena gangguan jalan nafas dengan sesak karena pusat nafasnya terganggu merupakan dua hal yang berbeda. Maka penulisannya berbeda. Tentu saja mengenai teknik penulisannya menurut bahasa yang ilmiah serta universal seperti NANDA tidak dibahas sekarang

Bersambung ke bagian 2

Read More......

NANDA : Risk for Activity Intolerance/Resiko Intoleransi Aktivitas

Resiko untuk Intoleransi Aktivitas (1982)

Definisi: 
Keadaan seseorang yang mempunyai resiko untuk megalami ketidakcukupan energi fisiologis maupun psikologis untuk menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktivitas sehari-hari.

Faktor resiko:
a. Tidak berpengalaman dalam aktivitas
b. Terlihat masalah sirkulasi/respirasi
c. Riwayat intoleransi sebelumnya
d. Status dekondisi

Berhubungan pada umumnya dengan penyakit 
a. Anemia
b. GAgal jantung kongestif
c. Penyakit katup jantung
d. Arithmia jantung
e. COPD
f. Gangguan metabolik
g. Gangguan muskuloskeletal

Mengenai penjelasan, silahkan lihat dalam pembahasan diagnosa Intoleransi Aktivitas/Activicty Intolerance

Read More......

NANDA : Activity Intolerance/Intoleransi Aktivitas

Intoleransi Aktivitas (1982)

Definisi:
Ketidak cukupan energi secara fisiologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktifitas sehari-hari


Batasan karakteristik :
a. Melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
b. Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
c. Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
d. Adanya dispneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas

Faktor yang berhubungan
a. Tirah baring atau imobilisasi
b. Kelemahan yang menyeluruh
c. Ketidakseimbangan antara suplai oksige dengan kebutuhan
d. Gaya hidup yang dipertahankan

Diagnosa klinik yang berhubungan
(Lihat diagnosa Risk for Activity Intolerance/Resiko Intoleransi Aktivitas)

Pembahasan :
Intoleransi aktivitas merupakan suatu diagnosa yang lebih mentikberatkan respon tubuh yang tidak mampu untuk bergerak terlalu banyak karena tubuh tidak mampu memproduksi energi yang cukup. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, untuk bergerak, kita membutuhkan sejumlah energi. Pembentukan energi dilakukan di sel, tepatnya di mitokondria melalui beberapa proses tertantu. Untuk membentuk energi, tubuh memerlukan nutrisi dan CO2. 

Pada kondisi tertentu, dimana suplai nutrisi dan O2 tidak sampai ke sel, tubuh akhirnya tidak dapat memproduksi energy yang banyak. Jadi, apapun penyakit yang membuat terhambatnya/terputusnya suplai nutrisi dan O2 ke sel, dapat mengakibatkan respon tubuh berupa intoleransi aktifitas.

Kita dapat melihat perbedaan orang sehat dengan yang mengalami intoleransi aktivitas adalah ketika mereka melakukan suatu gerakan. Bagi orang normal, berjalan dua tiga meter tidak merasa lelah, akan tetapi bagi pasien yang mengalami intoleransi, bergerak atau berjalan sedikit saja nafasnya sudah terengah-engah. Sudah kelelahan. Karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energi yang cukup untuk bergerak. Jadi, apapun penyakit yang membuat terhambatnya/terputusnya suplai nutrisi dan O2 ke sel, dengan kata lain mengganggu pembentukan energi dalam tubuh, dapat menimbulkan respon tubuh berupa intoleransi aktifitas.

Sebagai contoh 
• Anemia : kekurangan sel darah merah, membuat suplai O2 dan nutrisi sedikit ke sel. Karena yang bertugas membawa O2 dan nutrisi adalah sel darah merah.
• COPD – penyakit paru membuat jumlah O2 yang masuk ke tubuh menjadi berkurang, selain itu pada kasus yang sudah agak parah sehingga mengakibatkan asidosis membuat pengikatan O2 oleh darah/Hb menjadi kurang sempurna, sehingga jumlah O2 yang dihantarkan menjadi kurang.
• Gagal Jantung – Jantung bertugas untuk memompa darah ke seluruh tubuh, apabila jantung mengalami gangguan, maka darah yang membawa O2 dan nutrisi menjadi berkurang jumlahnya.sehingga produksi energy menjadi berkurang

Hati- hati tertukar dengan diagnosis dibawah ini

intoleransi aktivitas

berarti bahwa pasien dapat bergerak dengan bebas, tapi tidak dapat beradaptasi terhadap peningkatan kebutuhan energy karena pergerakannya.

Gangguan mobilitas fisik

pasien dapat bergerak dengan bebas apabila tidak ada gangguan/ batasan pada pergerakannya

intoleransi aktivitas

Pasien tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi tidak mampu bergerak banyak karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energy yang cukup.

Deficit perawatan diri

Tergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitasnya

Pasien mungkin membunyai diagnosa deficit perawatan diri karena intoleransi aktivitasnya

 

Intoleransi aktivitas

Pasien mau dan dapat berpartisipasi salam perawatan, tapi tidak mampu bergerak banyak karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energy yang cukup.

Koping Individu Tidak efektif

pasien tidak dapat berpartisipasi dalam perawatan atau perannya karena mereka merasa kurang motivasi untuk melakukan suatu pekerjaan

 

Intoleransi Aktivitas

Pasien pada awalnya tidak merasa lelah, akan tetapi setelah melakukan aktivitas pasien langsung merasa lelah

Kelelahan

pasien merasa lemas dan lelah karena penyakitnya

 

Read More......

NANDA : Chronic Pain/Nyeri Kronis

Nyeri Kronis (1986,1996)

Definisi : 
Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Secara konstan atau hilang timbul, tanpa prediksi waktu kesembuhan, dan lebih dari 6 bulan. 

Batasan karakteristik :
a. Perubahan berat badan
b. Laporan secara verbal dan non verbal, atau laporan adanya tingkah laku melindungi, berjaga-jaga, muka topeng, iritabilitas, fokus pada diri sendiri, gelisah, depresi)
c. Atropi pada sekumpulan otot
d. Perubahan pola tidur
e. Kelelahan
f. Takut cedera kembali
g. Berkurangnya interaksi dengan orang lain
h. Ketidakmampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya
i. Respon simpatik (temperature, dingin, perubahan posisi tubuh, hipersensitivitas)
j. Anoreksia

Faktor yang berhubungan
a. Ketidakmampuan fisik kronis/psikososial

Berhubungan dengan diagnosa klinis
(Lihat Nyeri akut/Acute Pain)

Hati-hati Salah Menegakkan Diagnosis
(Lihat Nyeri akut/Acute Pain)

Penjelasan
Pada dasarnya, perawat membagi nyeri menjadi dua criteria, yaitu akut dan kronik. Perbedaan dasarnya hanya pada aspek prediksi waktu sembuh dan lamanya waktu sembuh.

Fisiologi perjalanan nyeri :
Reseptor nyeri yang jumlahnya jutaan di tubuh, menerima sensasi yang kemudian dibawa ke spinal cord yaitu pada daerah kelabu dilanjutkan ke traktus spinothalamikus selanjutnya ke korteks serebral. Mekanismenya sebagai berikut:
  • Alur nyeri dari tangan yang terbakar mengeluarkan zat kimia bradykinin, prostaglandin kemudian merangsang ujung reseptor saraf yang kemudian membantu transmisi nyeri dari tangan yang terbakar ke otak.
  • Impuls disampaikan ke otak melalui nervus ke kornu dorsalis pada spinal cord.
  • Pesan diterima oleh thalamus sebagai pusat sensori pada otak.
  • Impuls dikirim ke corteks dimana intensitas dan lokasi nyeri dirasakan.
  • Penurunan nyeri dimulai sebagai signal dari otak, turun melalui spinal cord.
  • Pada kornu dorsalis zat kimia seperti endorfin dikeluarkan untuk menurunkan nyeri.
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

Read More......
 

Sponsor Blog :