Tentang Situs Ini

Situs ini berisi pelajaran sederhana mengenai konsep keperawatan. Disarikan dari perpaduan teori dan praktek berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan sesama rekan perawat sewaktu bekerja di Rumah Sakit dan bekerja sebagai Staff Pengajar di sebuah Sekolah Keperawatan. Tag line yang utama adalah PERAWAT TIDAK HANYA BERTEORI.....Mari bangga dan bersama memajukan perawat Indonesia.

Whats Up ^_^

Silahkan kunjungi secara berkala. Karena tiap hari akan ada update an.

PSIKOFARMAKOLOGI : Obat-obatan untuk Pasien Jiwa

Apakah anda pernah merawat pasien kambuhan, di mana ketika anda akan melakukan terapi aktifitas kelompok atau melakukan pendidikan kesehatan, anda malah ditertawakan pasien dan malah anda yang balik diajari dan digurui oleh pasien ? ^_^ Rata-rata perawat jiwa pernah. 

Hal itu sering terjadi karena, pasien kambuhan (terutama schizophrenia) sudah-berkali-kali diberikan pendidikan kesehatan dan terapi komunikasi oleh perawat, yang sesungguhnya ironisnya,untuk beberapa kondisi tertentu, menurut sejumlah penelitian, konsep tersebut diyakini justru oleh perawat sendiri sebagai konsep yang “belum tentu memberikan prognosa yang baik”. 

Ketika sedang merawat pasien jiwa, terkadang perawat terjebak dalam konsep yang mungkin bisa kita namakan dengan fenomena Full Komunikasi Terapeutik. Fenomena di mana perawat
 
“hanya berkomunikasi….berbicara……dan melakukan pendekatan…..dan terus berharap pasiennya akan membaik tanpa tahu bagaimana sebenarnya kemungkinan pasien dapat sembuh."

Fenomena yang unik mungkin, yaitu karena dalam pengajarannya, perawat tidak banyak diperkenalkan dengan konsep psikopatologi (perubahan apa yang terjadi di dalam tubuh pasien yang sakit jiwa). Kita diajarkan beribu-ribu cara pendekatan kepada pasien jiwa, tetapi tidak diperdalam mengenai konsep patologi dan obat-obatannya. Mungkin salah satunya karena “Fenomena Obat” bukan termasuk wewenang keperawatan. Padahal, sebagai orang yang “terus menerus” berinteraksi dengan pasien, walaupun bukan kewenangannya, seharusnya, konsep psikopatologi dan psikofarmakologi merupakan hal yang utama diajarkan dan dikuasai oleh para perawat. Mungkin alasannya karena ada kondisi tertentu, di mana pasien memang “harus ditangani dengan obat”

PENGERTIAN
Psikofarmaka adalah obat-obatan yang digunakan untuk klien dengan gangguan mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat neuroleptika (bekerja pada sistem saraf). Pengobatan pada gangguan mental bersifat komprehensif, yang meliputi:
1. Teori biologis (somatik), mencakup: pemberian obat psikofarmaka, lobektomi dan electro convulsi therapy (ECT)
2. Psikoterapeutik 
3. Terapi modalitas 

KONSEP PSIKOFARMAKOLOGI
1. Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari manajemen psikoterapi
2. Perawat perlu memahami konsep umum psikofarmaka
3. Yang termasuk neurotransmitter: dopamin, neuroepinefrin, serotonin dan GABA (Gamma Amino Buteric Acid) dan lain-lain
4. Meningkat dan menurunnya kadar/konsentrasi neurotransmitter akan menimbulkan kekacauan atau gangguan mental
5. Obat-obat psikofarmaka efektif untuk mengatur keseimbangan neurotransmitter

KONSEP PSIKOFARMAKOLOGI
1. Sawar darah otak melindungi otak dari fluktuasi zat kimia tubuh, mengatur jumlah dan kecepatan zat yang memasuki otak
2. Obat-obat psikofarmaka dapat melewati sawar darah otak, sehingga dapat mempengaruhi sistem saraf
3. Extrapyramidal side efect (efek samping terhadap ekstrapiramidal) terjadi akibat penggunaan obat penghambat dopamin, agar didapat keseimbangan antara dopamin dan asetilkolin
4. Anti cholinergic side efect (efek samping antikolinergik) terjadi akibat penggunaan obat penghambat acetilkolin

Menurut Rusdi Maslim yang termasuk obat- obat psikofarmaka adalah golongan:
1. Anti psikotik, pemberiannya sering disertai pemberian anti parkinson
2. Anti depresi
3. Anti maniak
4. Anti cemas (anti ansietas)
5. Anti insomnia
6. Anti obsesif-kompulsif
7. Anti panik

YANG PALING SERING DIGUNAKAN OLEH KLIEN JIWA 

A. Anti Psikotik
Anti psikotik termasuk golongan mayor trasquilizer atau psikotropik: neuroleptika.
Mekanisme kerja: menahan kerja reseptor dopamin dalam otak (di ganglia dan substansia nigra) pada sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal.
Efek farmakologi: sebagai penenang, menurunkan aktivitas motorik, mengurangi insomnia, sangat efektif untuk mengatasi: delusi, halusinasi, ilusi dan gangguan proses berpikir.
Indikasi pemberian: Pada semua jenis psikosa, Kadang untuk gangguan maniak dan paranoid

EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK

a. Efek samping pada sistem saraf (extrapyramidal side efect/EPSE)
1). Parkinsonisme
Efek samping ini muncul setelah 1 - 3 minggu pemberian obat. Terdapat trias gejala parkonsonisme:
Tremor: paling jelas pada saat istirahat
Bradikinesia: muka seperti topeng, berkurang gerakan reiprokal pada saat berjalan
Rigiditas: gangguan tonus otot (kaku) 
2). Reaksi distonia: kontraksi otot singkat atau bisa juga lama
Tanda-tanda: muka menyeringai, gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak terkontrol
3). Akathisia
Ditandai oleh perasaan subyektif dan obyektif dari kegelisahan, seperti adanya perasaan cemas, tidak mampu santai, gugup, langkah bolak-balik dan gerakan mengguncang pada saat duduk.
Ketiga efek samping di atas bersifat akur dan bersifat reversible (bisa ilang/kembali normal).
4). Tardive dyskinesia
Merupakan efek samping yang timbulnya lambat, terjadi setelah pengobatan jangka panjang bersifat irreversible (susah hilang/menetap), berupa gerakan involunter yang berulang pada lidah, wajah,mulut/rahang, anggota gerak seperti jari dan ibu jari, dan gerakan tersebut hilang pada waktu tidur.

b. Efek samping pada sistem saraf perifer atau anti cholinergic side efect 
Terjadi karena penghambatan pada reseptor asetilkolin. Yang termasuk efek samping anti kolinergik adalah:
• Mulut kering
• Konstipasi
• Pandangan kabur: akibat midriasis pupil dan sikloplegia (pariese otot-otot siliaris) menyebabkan presbiopia
• Hipotensi orthostatik, akibat penghambatan reseptor adrenergik
• Kongesti/sumbatan nasal

Jenis obat anti psikotik yang sering digunakan:
• Chlorpromazine (thorazin) disingkat (CPZ)
• Halloperidol disingkat Haldol
• Serenase



B. Anti Parkinson
Mekanisme kerja: meningkatkan reseptor dopamin, untuk mengatasi gejala parkinsonisme akibat penggunaan obat antipsikotik.
Efek samping: sakit kepala, mual, muntah dan hipotensi.
Jenis obat yang sering digunakan: levodova, tryhexifenidil (THF).

C. Anti Depresan
Hipotesis: syndroma depresi disebabkan oleh defisiensi salah satu/beberapa aminergic neurotransmitter (seperti: noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP, khususnya pada sistem limbik.

Mekanisme kerja obat:
• Meningkatkan sensitivitas terhadap aminergik neurotransmiter
• Menghambat re-uptake aminergik neurotransmitter 
• Menghambat penghancuran oleh enzim MAO (Mono Amine Oxidase) sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergik neurotransmitter pada neuron di SSP.
Efek farmakologi:
Mengurangi gejala depresi
Penenang 
Indikasi: syndroma depresi
Jenis obat yang sering digunakan: trisiklik (generik), MAO inhibitor, amitriptyline (nama dagang).
Efek samping: yaitu efek samping kolonergik (efek samping terhadap sistem saraf perifer) yang meliputi mulut kering, penglihatan kabur, konstipasi, hipotensi orthostatik.

D. Obat Anti Mania/Lithium Carbonate
Mekanisme kerja: menghambat pelepasan serotonin dan mengurangi sensitivitas reseptor dopamin.
Hipotesis: pada mania terjadi peluapan aksi reseptor amine.

Efek farmakologi:
Mengurangi agresivitas
Tidak menimbulkan efek sedatif
Mengoreksi/mengontrol pola tidur, iritabel dan adanya flight of idea 
Indikasi: 
Mania dan hipomania, lebih efektif pada kondisi ringan. Pada mania dengan kondisi berat pemberian obat anti mania dikombinasi dengan obat antipsikotik.
Efek samping: efek neurologik ringan: fatigue, lethargi, tremor di tangan terjadi pada awal terapi dapat juga terjadi nausea, diare.
Efek toksik: pada ginjal (poliuria, edema), pada SSP (tremor, kurang koordinasi, nistagmus dan disorientasi; pada ginjal (meningkatkan jumlah lithium, sehingga menambah keadaan oedema.

E. Anti Ansietas (Anti Cemas) 
Ansxiolytic agent, termasuk minor tranquilizer. Jenis obat antara lain: diazepam (chlordiazepoxide).

F. Obat Anti Insomnia: phenobarbital

G.Obat Anti Obsesif Kompulsif: clomipramine

H. Obat Anti Panik: imipramine

PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT
Pengumpulan data sebelum pengobatan, meliputi:

  • Diagnosa medis
  • Riwayat penyakit
  • Riwayat pengobatan
  • Hasil pemeriksaan laboratorium (yang berkaitan)
  • Jenis obat yang digunakan, dosis, cara dan waktu pemberian
  • Program terapi lain
  • Mengkombinasikan obat dengan terapi modalitas
  • Pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga, tentang pentingnya minum obat dan penanganan efek samping obat
  • Monitor efek samping penggunaan obat 

Melaksanakan prinsip pengobatan psikofarmaka
1. Persiapan
– Melihat order pemberian obat di lembaran obat (di status)
– Kaji setiap obat yang akan diberikan termasuk tujuan, cara kerja obat, dosis, efek samping dan cara pemberian
– Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang obat
– Kaji kondisi klien sebelum pengobatan
2. Lakukan minimal prinsip lima benar dalam pemberian obat 
3. Laksanakan program pemberian obat 
• Gunakan pendekatan tertentu 
• Bantu klien minum obat, jangan ditinggal 
• Pastikan bahwa obat telah diminum 
• Bubuhkan tanda tangan pada dokumentasi pemberian obat, sebagai aspek legal
4. Laksanakan program pengobatan berkelanjutan, melalui program rujukan
5. Menyesuaikan dengan terapi non farmakologik
6. Turut serta dalam penelitian tentang obat-obat psikofarmaka

EVALUASI
Reaksi obat efektif jika:
1. Emosional stabil
2. Kemampuan berhubungan interpersonal meningkat
3. Halusinasi, agresi, delusi, menarik diri menurun
4. Perilaku mudah diarahkan
5. Proses berpikir ke arah logika
6. Efek samping obat
7. Tanda-tanda vital: tekanan darah, denyut nadi

Demikianlah pembahasan tentang psikofarmakologi, dan mudah-mudahan dapat menjadi sedikit informasi bagi kita untuk membuat perawatan kita ke pasien jiwa lebih baik lagi.

Semoga anda lulus NCLEX       ^_^

Read More......

Suntikan via Intra Selang


Nyuntik lewat selang (atau karetnya?????), merupakan hal yang sangat rutin dikerjaan oleh perawat. Tindakan keperawatan paling banyak, nomer satu, dari semua tindakan keperawatan. Sebuah konsep yang aneh, karena sesungguhnya, konsep ini TIDAK PERNAH ATAU JARANG diajarkan dan diujikan di sekolah-sekolah perawat. Para perawat hanya diberikan konsep Intravena, Intra Muscular, Intra Cutan Sub Cutan tapi tidak pernah mengenal dengan lebih dalam mengenai intra selang. Nah lho……Bagaimana seharusnya?????

Bagaimanakah Cara Menyuntik Intra Selang atau Lewat Selang. 

Sebetulnya kata intra selang itu sendiri merupakan istilah baru yang tercipta di kalangan para perawat untuk mendefinisikan suatu tindakan penyuntikan melalui karet selang infus, yang merupakan bagian dari teknik penyuntikan Intravena. Hal ini dimaksudkan sebagai pengganti penyuntikan intravena berulang (pada pasien rawat inap), yang berarti mencegah/mengurangi rasa sakit dari penyuntikan berulang. Pada dasarnya, prosedur yang digunakan sama dengan prosedur penyuntikan yang lain. Hanya karena penyuntikannya melalui karet selang infus, maka akan lebih banyak dibahas mengenai keunikan dari tindakan ini.

Banyak sekali akibat buruk yang ditimbulkan akibat teknik penyuntikan yang tidak benar. Terutama phlebitis. Dan anda tahu rasanya phlebitis. Saya rasa para perawat akan langsung insyaf dan menyadari kesalahannya untuk tidak melakukan tindakan keperawatan secara sembarangan kalau sudah merasakan sakitnya phlebitis he….3x. Berkenaan dengan hal tersebut, ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dan harus kita lakukan pada waktu kita menyuntik lewat karet selang infus.

a. Selalu Cek kelancaran tetesan infus sebelum menyuntik pasien
Hal yang pertama kali, yang sangat wajib kita lakukan pada waktu akan menyuntik pasien (selain 5 benar tentunya) adalah cek ulang tetesan infus. Kenyataan di lapangan, banyak sekali perawat yang lupa memeriksa kelancaran aliran infus sebelum melakukan tindakan. Karena ingin cepat langsung saja melakukan penyuntikan. Hal ini sangat bebahaya, karena apabila kita memaksakan penyuntikan dengan aliran tersumbat dapat menimbulkan akibat yang serius, yaitu salah satunya adalah apabila aliran infus tersumbat dikarenakan oleh bekuan darah, bekuan darah tersebut dapat lepas ke pembuluh darah menjadi emboli dan menyumbat di pembuluh darah kapiler. 

b. Pergunakan teknik yang tepat dalam menyuntik
             Dengan menghentikan aliran infus vs tidak menjalankan aliran infus
  • Pada dasarnya, ada dua cara menyuntik intra selang. Yang pertama dengan cara mengehentikan aliran infus. Cara ini merupakan cara umum yang dilakukan oleh banyak perawat. Teknisnya, ketika seorang perawat akan menyuntikan obat ke pasien lewat intra selang, perawat menghentikan aliran infus dengan cara mematikan aliran infus atau melipat selang infus. Berbagai buku perawat mengajarkan tentang cara ini. 
  • Kalau kita tinjau lebih lanjut, ada beberapa kelebihan dan kekurangan dengan teknik ini. Banyak perawat berargumen bahwa alasan mereka menghentikan aliran infus, atau melipat selang adalah agar obat-obatan langsung masuk, tidak naik ke atas. Hal ini sangat penting untuk memastikan obat masuk dengan cepat. Apalagi dalam situasi emergensi, di mana obat-obatan seperti adrenalin harus langsung masuk. Akan tetapi, teknik yang pertama ini mempunyai beberapa kelemahan atau kekurangan. Yang paling utama adalah rasa sakit.
  • Nyeri/sakit merupakan salah satu diagnosa keperawatan aktual yang paling sering ditemukan. Penyuntikan dengan menghentikan aliran infus mempunyai efek samping rasa sakit. Karena, obat-obatan yang disuntikan langsung masuk ke aliran darah. Hal ini tidak dianjurkan apabila kita menyuntikan obat-obatan yang agak keras. Seperti antibiotik dan antiemetik. Lebih lanjut lagi, apabila hal ini dilakukan terus menerus, akan mempercepat terjadinya phlebitis/peradangan, karena dinding pembuluh darah vena dapat teriritasi oleh obat.
  • Cara yang kedua adalah dengan tidak menghentikan aliran infus. Penyuntikan dilakukan dengan infus yang terus berjalan. Teknisnya adalah, waktu penyuntikan aliran infus agak dipercepat, sampai dengan 40 gtt/menit. Keuntungan yang utama adalah karena obat dimasukkan bersamaan dengan cairan infus, viskositas obat menjadi turun, dan pasien tidak begitu merasa nyeri. Walaupun, banyak perawat beralasan bahwa menyuntik dengan menghentikan aliran infus tidak jauh berbeda, karena viskositas obat telah jauh berkurang dengan pengenceran, menyuntik obat dengan tidak menghentikan aliran infus mengurangi tekanan, dan hal itu mengurangi iritasi obat terhadap dinding vena.
  • Salah satu kelemahannya, apabila terlalu cepat menyuntikkannya, maka cairan akan naik ke atas. Dan tindakan ini, tidak boleh dilakukan untuk pemberian obat secara cepat, seperti pemberian adrenalin pada saat emergensi.
  • Berbeda dengan teknik pertama, belum banyak (Mungkin sudah ada) penelitian yang dilakukan mengenai efisiensi tindakan penyuntikan obat melalui selang yang aliran infusnya tidak dihentikan. Belum ada evidence base yang jelas mengenai konsep yang kedua ini. Karena, apabila ditinjau dari segi keilmuan, masih banyak yang harus diteliti, seperti apakah tindakan menyuntik dengan cara ini (bersamaan dengan aliran infuse) tidak mengurangi efek obat?berpengaruh terhadap waktu paruh obat? cairan apakah yang diperbolehkan? dsb.
  • Akan tetapi, berdasarkan pengalaman, apabila yang disuntikkan “hanya” obat yang umum, seperti antibiotik “standar” (cefotaxim mungkin…….??.) dengan cairan yang umum dipakai (RL, NACL) tindakan menyuntik obat dengan tidak menghentikan aliran infus dapat menjadi pilihan yang lebih baik, karena lebih “tidak” mengakibatkan nyeri kepada pasien, dan itu berarti mengurangi resiko terjadinya phlebitis.
c. Perhatikan durasi penyuntikan
Salah satu hal yang paling sedikit referensinya dalam intra selang adalah durasi penyuntikan. Tidak ada panduan yang jelas mengenai berapa lama durasi penyuntikan intra selang (kecuali dalam keadaan emergensi tentunya, pastilah harus cepat). Banyak referensi yang hanya menyampaikan kata “pelan-pelan”
Seorang perawat senior pernah menganjurkan bahwa, mengenai lama waktu penyuntikan, samakan saja dengan kebiasaan aliran infus. Maksudnya apa? Mungkin seperti ini. Penyuntikan intra selang pada dasarnya dilakukan sebagai pengganti IV jangka panjang, yang mana beresiko lebih nyeri, maupun penyuntikan berulang. Infus yang dipasang biasanya berkecepatan 20 gtt/mnt atau 1 cc/menit (untuk yg dewasa/macrodrip). Oleh karena itu, suntikkan saja dengan kecepatan 20 gtt/mnt atau 1 cc/mnt. Kalau kita akan menyuntik 5 cc, ya 5 menit. Tapi, teori ini pun belum “evidence base”.
Teori lain mengatakan dengan melihat respon pasien. Tetap kita suntikkan perlahan, dengan bertanya dan meminta pandangan pasien, apabila terlalu cepat dan terasa nyeri, tolong disampaikan supaya kecepatan penyuntikan diturunkan. Dan kembali, hal inipun belum jelas.

Terlepas dari berbagai kekurangan, baik referensi maupun penelitian mengenai penyuntikan intra selang, semua tindakan keperawatan seyogyanya tetap berdasarkan kepada asas caring kepada pasien. Ketika dihadapkan kepada pilihan yang beresiko, pilihlah yang resikonya paling sedikit. 

Selamat menyuntik. ^_^

Read More......

TEKANAN DARAH

Tekanan darah merupakan salah satu konsep yang wajib diketahui oleh perawat. Termasuk salah satu dari komponen tanda-tanda vital. Ada cara mudah dalam memahami tekanan darah. Tekanan darah adalah tekanan atau gaya lateral darah yang bekerja pada dinding pembuluh darah. Proses tekanan ini, sebetulnya dimulai pada saat darah keluar dari jantung, beredar ke seluruh tubuh dan kembali lagi ke jantung. Karena pembuluh darah darah terbagi 2, yaitu arteri dan vena, maka tekanan darah juga dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu tekanan darah arteri dan tekanan darah vena.

Tekanan darah yang kita kenal sehari-hari adalah adalah tekanan darah arteri. Yang pengukurannya menggunakan alat yang disebut sphygmomanometer atau tensian, bahasa umumnya. Sedangkan tekanan darah vena diukur dengan menggunakan CVP (Central Venous Pressure) atau tekanan vena sentral.

Dalam mengukur tekanan darah arteri, kita mengukur bagaimana kondisi jantung dalam memompa darah. Ada dua hasil yang kita temui. Yaitu sistolik dan diastolik, seperti yang orang awam ketahui pada umumnya. Tekanan tertinggi terjadi selama ejeksi jantung dan disebut tekanan sistolik (Normalnya 120 mmHg), yaitu saat ventrikel kontraksi. Titik terendah dalam siklus ini disebut diastolik yaitu saat ventrikel relaksasi (Normalnya 80mmHg). Selisih tekana sistolik dan tekanan diastolik disebut Pulse Pressure (Tekanan Nadi) Dan akan terus berubah sesuai dengan pertambahan usia. Sedangkan tekanan darah vena, dengan mudah kita dapat dengan CVP. Nilai normalnya di sternum 0 – 5 cmH2O, Midaxilla line = 5 – 15 cmH2O

Kembali ke pengukuran tekanan darah arteri, karena didapatkan dua hasil (Sistolik dan diastolik), maka kita perlu mencari tekanan arteri yang sebenarnya. Tekanan darah arteri rata-rata bisa didapatkan dengan sebuah rumus yaitu :

MAP = (S + 2D)/3

MAP = Mean Arterial Pressure/tekanan arteri rata-rata

S = Tekanan darah sistolik

D = Tekanan darah diastolik

Jadi perhitungannya, apabila seseorang mempunyai tekanan darah arteri 120/80 mmHg, maka MAP/tekanan arteri rata-ratanya adalah (120 + 160) atau 280/3 yaitu 93,4 mHg.

Hal ini penting diketahui oleh dokter dan perawat, karena tekanan darah arteri menggambarkan kondisi tekanan darah yang ada pada darah saat keluar dari jantung. Tekanan yang rendah mengakibatkan suplai darah kurang ke jaringan. Sehingga, oksigen dan sari-sari makanan tidak tersampaikan, dan akhirnya dapat terjadi penurunan metabolisme tubuh. Kondisi ini yang dinamakan dengan hipoksia.


Definisi Fisiologi Tekanan Darah

Untuk memahami penyakit-penyakit yang berhubungan dengan nilai tekanan darah, seperti Hipertensi (tekanan darah tinggi) atau Hipotensi (tekanan darah rendah), atau lebih jauh lagi Shock (Penurunan tekanan darah yang ekstrim, sehingga darah tidak dapat sampai ke organ-organ vital tubuh, dan terjadi kegagalan fungsi), dibutuhkan konsep dasar yang lebih dari itu.

Tekanan darah, secara fisiologi dapat didefinisikan sebagai

BP = CO x SVR

BP = Blood Pressure/tekanan darah

CO = Cardiac output/ Curah jantung (Jumlah darah yang keluar dari jantun dalam waktu 1 menit)

SVR = Systemic Vascular Resisten/ Tahanan pembuluh darah sistemik (resistensi dinding pembuluh

darah terhadap aliran darah.

Sedangkan

CO = SV x P

SV = Stroke Volume/volume sekuncup (jumlah darah yang dipompakan keluar jantung 1x pompaan)

P = Pulse/Nadi dalam satu menit

Dengan kata lain, dapat diambil kesimpulan bahwa

BP = SV x P x SVR


Penjelasan :

Sudah jelas bahwa, tekanan darah itu sendiri merupakan perkalian dari 3 komponen yaitu Stroke volume, nadi dan tahanan dinding pembuluh darah. Sehingga dengan kata lain, dapat kita simpulkan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tekanan darah yaitu, jumlah darah yang keluar dari jantung (SV), Denyut jantung (P) serta keadaan dinding pembuluh darah (SVR).

Kita dapat mengambil analogi hitungan anak SD, yaitu 2 x 3 x 4 = 24. Apabila angka 2 diganti dengan 1 (diturunkan) tentu saja hasilnya akan turun menjadi 12, karena 1 x 3 x 4 = 12 he…....3x ^_^. Begitu juga dengan tekanan darah, kalau ada salah satu dari 3 unsur tersebut mengalami perubahan nilai, maka akan terjadi perubahan nilai juga pada tekanan darah.

Contoh kasus :

Pada orang dengan perdarahan hebat, jumlah darah yang ada dalam tubuh menjadi berkurang. Hal itu mengakibatkan darah yang masuk ke jantung menjadi sedikit, sehingga stroke volume jadi kecil/jadi sedikit. Karena terjadi penurunan stroke volume, akhirnya mengakibatkan tekanan darah menjadi turun. Kalau hal ini berlangsung ekstrim, terus-menerus dan tidak ditolong, seseorang dapat mengalami kematian, disebabkan kegagalan fungsi organ akibat tidak adanya suplai oksigen dan nutrisi untuk metabolisme yang dibawa oleh darah. Kondisi inilah yang disebut dengan shock hipovolemik.


Read More......

TERAPI OKSIGEN : Part 1


Tindakan pemberian oksigen merupakan tindakan yang sangat penting dilakukan kepada pasien. Pada pasien dengan kondisi tertentu, tanpa suplai oksigen ke bagian otak, hanya dalam waktu 4 menit, seseorang dapat langsung mengalami kerusakan sel-sel otak yang berakibat kematian.Pada kenyataannya, banyak perawat di rumah sakit  yang memberikan oksigen kepada pasien tanpa dibekali pengetahuan yang cukup.Dan kalau hal ini terjadi, maka yang pasien adalah pihak yang paling dirugikan. 

Terapi oksigen adalah pemberian aliran gas yang mengandung oksigen > 21% sehingga terjadi peningkatan kadar oksigen dalam darah. Fungsi  dari terapi oksigen adalah mempertahankan O2 dalam jaringan yang adekuat, menurunkan kerja nafas dan menurunkan kerja jantung. Dala pelaksanaannya, ada beberapa indikasi dalam pemberian oksigen yaitu :

·         Hipoksemia/hipoksia

a.        ↑ beban kerja otot jantung/miokardium

b.        Infark Miokard

c.        Gagal  Jantung Kongestif

·         ↓ Curah Jantung

a.        Shock

b.        Hypotension

·         ↑ Kebutuhan oksigen

a.        Infeksi

b.        Sepsis

·         ↓ Kemampuan darah membawa O2

a.        Keracunan CO

 

METODA PEMBERIAN OKSIGEN

Jenis

Konsentrasi

Tipe dan  jumlah pemberian

Fi02 adalah Fixed Inhalation 02, yaitu jumlah O2 yang masuk ke paru-paru pada waktu terapi

 

1. LOW FLOW SYSTEM

•   OXYGEN YG TERISAP  TERCAMPUR DENGAN UDARA SEKITARNYA

•   TERBAGI DLM 2 JENIS

 

LOW FLOW LOW CONCENTRATION

-      NASAL CANULE  : 1 – 6L  dengan FiO2 : 23 – 42%

-      NASAL CATHETER  : 1 – 6 L  dengan FiO2 :23 – 42%

 

LOW FLOW HIGH CONCENTRATION

 

-      SIMPLE FACE MASK dengan  6 – 8 L DG FiO2 40 – 60%

-      MASK  WITH PARTIAL REBREATHING dengan 8 – 11 L DG FiO2 50 – 75%

-      MASK WITH NON REBREATHING dengan 12 L DG FiO2 80 – 100%

 

2. HIGH FLOW SYSTEM

•   OKSIGEN YANG TERISAP SESUAI DG OKSIGEN YANG DIBERIKAN (TIDAK TERCAMPUR DG UDARA SEKITAR)

 

 

HIGH FLOW LOW CONCENTRATION

 

–     VENTURI MASK dengan  4 – 8 L DG FiO2 24 – 40%

 

HIGH FLOW HIGH CONCENTRATION

 

–     MASK AEROSOL  8 – 10 L dengan FiO2 30 – 100 %

–     T-PIECE 8 – 10 L dengan FiO2 30 – 100%

–     FACE TENT 8 – 10 L dengan FiO2 30 – 100%

–     TRACHEOSTOMY COLLAR 8 – 10 L dengan FiO2 30 – 100 %

–     TRANSTRACHEAL CATHETER 1 – 4 dengan FiO2 60 – 100%

–     MECHANICAL VENTILATION

 


PERBANDINGAN ALAT TERAPI OKSIGEN


Tipe

Kelebihan

Kekurangan

A

NASAL CANULE

 

•  JIKA RR DAN KEDALAMAN NAFAS TERATUR PEMBERIAN O2 STABIL

•  DAPAT DIBERIKAN DALAM JANGKA WAKTU YG LAMA

•  PASIEN DAPAT BERGERAK BEBAS, MAKAN, MINUM  DAN BICARA

•  EFISIEN DAN NYAMAN UNTUK PASIEN

 

•   DAPAT MENYEBABKAN IRITASI PADA HIDUNG, BELAKANG TELINGA TEMPAT TALI BINASAL

•   FiO2 AKAN BERKURANG BILA PASIEN BERNAFAS DG MULUT, RR DAN KEDALAMAN BERUBAH 

 

B

NASAL CATHETER

 

•  MEMBERIKAN O2 DG KONTINYU

•  PEMBERIAN OKSIGEN STABIL

•  PASIEN BEBAS BERGERAK, MAKAN-MINUM DAN BICARA

•  ALAT YG DIGUNAKAN MUDAH DAN MURAH

 

•   DAPAT MENIMBULKAN IRITASI PADA OROPHARING

 

C

SIMPLE FACE MASK

 

•  MUDAH DIGUNAKAN

•  DAPAT MEMBERIKAN O2 DG KONSENTRASI TINGGI

•  MURAH

 

•   TIDAK NYAMAN

•   SELAMA DIPASANG MENGGANGGU MAKAN, MINUM, BATUK DAN BICARA

•   TERJADI AKUMULASI CO2 JIKA FLOW <>

D

MASK WITH PARTIAL REBREATHING

•  O2 YG DIDAPAT KONSENTRASINYA > TINGGI

•  TIDAK DIPENGARUHI O/UDARA LUAR

 

•   TIDAK NYAMAN

•   SELAMA DIPASANG MENGGANGGU MAKAN, MINUM, BATUK DAN BICARA

 

E

MASK WITH NON REBREATHING

 

•  O2 YG DIDAPAT KONSENTRASINYA > TINGGI

•  TIDAK DIPENGARUHI O/UDARA LUAR

 

•   TIDAK NYAMAN

•   SELAMA DIPASANG MENGGANGGU MAKAN, MINUM, BATUK DAN BICARA

 

F

VENTURI MASK

 

 

 

•  TIDAK DIPENGARUHI OLEH TIPE RESP, RR, TYDAL VOLUME DAN UDARA LUAR

 

•   TIDAK NYAMAN

•   SELAMA DIPASANG MENGGANGGU MAKAN, MINUM, BATUK DAN BICARA

G

AEROSOL MASK

 

 

 

•  LEMBAB

•  FiO2 YANG DIDAPAT AKURAT

 

•   TIDAK NYAMAN

•   SELAMA DIPASANG MENGGANGGU MAKAN, MINUM, BATUK DAN BICARA

H

 T PIECE

 

 

•  LEMBAB

•  O2 YANG DIDAPAT AKURAT

•   TIDAK NYAMAN

•    TUBE YG DIPASANG BERAT

I

TRACHEOSTOMY COLLAR

 

 

 

•  LEMBAB

•  O2 YANG DIDAPAT AKURAT

 

•   jTIDAK NYAMAN

•   MEMERLUKAN TINDAKAN PEMBEDAHAN

•   MEMERLUKAN PERAWATAN YG REGULER DAN SERING

J

 FACE TENT

 

 

•  LEMBAB

•  O2 YANG DIDAPAT AKURAT

•   TIDAK NYAMAN

•   O2 BOROS

K

TRANSTRACHEAL CATHETER

 

 

•  LEMBAB

•  O2 YANG DIDAPAT AKURAT

•  HEMAT O2

•   MEMERLUKAN PERAWATAN YG REGULER DAN SERING

•   MEMERLUKAN TINDAKAN PEMBEDAHAN

L

 MECHANICAL VENTILATOR

 

•  LEMBAB

•  O2 YANG DIDAPAT AKURAT

•  MEMBANTU MENGEMBANGKAN PARU DAN MENCEGAH ATELEKTASIS DG MEMBERIKAN TEKANAN POSITIF

 

•   HARUS DILAKUKAN DI RUANG KHUSUS YG MEMPUNYAI FASILITAS TSB

•   JIKA DIBERIKAN DG MASKER DAPAT MENYEBABKAN DISTENSI ABDOMEN AKIBAT TERTELAN UDARA

•   MAHAL

 


Bersambung......................

Read More......
 

Sponsor Blog :

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent