Tentang Situs Ini

Situs ini berisi pelajaran sederhana mengenai konsep keperawatan. Disarikan dari perpaduan teori dan praktek berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan sesama rekan perawat sewaktu bekerja di Rumah Sakit dan bekerja sebagai Staff Pengajar di sebuah Sekolah Keperawatan. Tag line yang utama adalah PERAWAT TIDAK HANYA BERTEORI.....Mari bangga dan bersama memajukan perawat Indonesia.

Whats Up ^_^

Silahkan kunjungi secara berkala. Karena tiap hari akan ada update an.

Situs Asuhan Keperawatan di Internet : SEBUAH KESALAHAN BESAR !!! (bag 1)


Kalau kita buka google, lalu kita ketikkan asuhan keperawatan……dst…, akan muncul berbagai macam link situs yang menyediakan materi asuhan keperawatan.
 
Silahkan mendownload, sudah ada sekian ratus asuhan keperawatan. selalu ada update an 
Begitu bunyi iklan yang berbayar.

Berbagai macam situs ada, dari yang berbayar maupun yang gratisan. Pada umumnya ditulis oleh perawat, dosen dan mahasiswa (atau non perawat juga), yang ingin menyampaikan ilmu, aktualisasi diri (mungkin yang diposting materi kuliahnya) dan membuat perawat lebih maju. Tujuan yang mulia sekali, dan seyogyanya diikuti oleh perawat yang lain. TAPI WASPADALAH !!!!……….pola pikir seperti itu (asuhan keperawatan di internet) justru bertentangan dengan kaidah keperawatan sesungguhnya.

Berbicara mengenai asuhan keperawatan, tentu saja tidak lepas dari 3 hal , teori membuat asuhan keperawatan itu sendiri, pola pikir yang dipakai serta keadaan pasien.

Asuhan keperawatan (askep) adalah gabungan dari tindakan komprehensif perawat pada saat menyelesaikan masalah pasien. Kaidahnya sama dengan proses ilmiah. Dimulai dengan pengkajian (pengumpulan data), penemuan masalah, perencanan, aplikasi dan kemudian di evaluasi. Berdasarkan sudut pandang keilmuannya keperawatan, sekali lagi keperawatan, bukan kedokteran.

Sesuatu yang dianggap masalah dalam perawatan pasien (atau yang sering kita sebut diagnosa keperawatan) dari sudut pandang perawat adalah respon pasien terhadap penyakitnya, bukan “penyakit” yang dideritanya. Jadi kembali lagi sebagai seorang perawat kita harus melihat respon pasien kepada penyakitnya bukan penyakitnya seperti yang dilakukan oleh dokter. Contohnya bagaimana? Misal pasien dengan penyakit tertentu jadi tidak bisa mandi. Gara-gara penyakitnya, pasien jadi tidak mampu ke toilet. Mungkin, dari sudut pandang dokter, itu bukan urusannya, karena masalah yang utama bagi dokter adalah penyakit pasiennya yang dia obati. Tapi bagi perawat, tidak mampunya pasien mandi itu menjadi masalah besar. Yang kita bicarakan disini adalah respon tubuhnya.

Pada kenyataannya, respon pasien terhadap penyakitnya itu bermacam-macam. Tergantung dari banyak hal. Menurut Gordon, ranah respon kebutuhan dapat dikategorikan menjadi 13 bagian. Tapi untuk memudahkan pembahasan, kita bisa membaginya dalam 4 kategori saja, yaitu biopsikososio dan spiritual.

Perlu kita ketahui bahwa, walaupun tehnik pengkajiannya sama, pendalaman informasi dan sudut pandang yang dilakukan oleh dokter berbeda. Dalam pengkajiannya, dokter mengumpulkan data sebanyak-banyaknya (setepat mungkin) yang kemudian dikumpulkan, dikaji, dianalisis yang mengerucut menjadi sebuah diagnosa. Contohnya : ketika bertemu pasien batuk lebih dari 2 minggu, keringat dingin malam hari, test mantouk positif. Gambaran rontgen paru blur dsb. Diagnosanya mungkin (atau pasti) TBC. 

Berbeda dengan dokter, cara mengkaji perawat berdasarkan keluhan pasien. Ketika pasien mengeluh sesak, ya diagnosanya sesak. Kalo sakit, ya sakit, klo bosan ya bosan. Trus kalau pasien keluhannya tidak punya uang?????ya diagnosanya tidak punya uang. Begitu simpelnya (khusus untuk pasien yang sadar). 

Tapi tentu saja kita sebagai perawat punya sudut pandang dan bahasa keilmuan. Sebagai contoh, ketika kita menemukan pasien mengeluh sesak , harus kita gali sebenarnya apa yang dimaksud dan dirasakan pasien dengan “SESAK” tersebut. Disinilah kita harus mengerti tentang konsep penyakit beserta konsep anatomi, fisiologi dan patologinya. Kita harus mengerti sebetulnya apa yang terjadi di dalam tubuh, yang kemudian menimbulkan “perasaan/respon tubuh” berupa SESAK. Kita tahu dalam ilmu patofisiologi bahwa sesak pada pasien dapat ditimbulkan akibat terjadi gangguan system pernafasannya. Apakah gangguannya di jalan nafas, apakah karena penumpukan secret, akibat transfer O2 dari alveoli ke darah terhambat atau akibat pusat nafasnya yang terganggu. Inilah yang disebut dengan etiologi. Dengan mengetahui alur permasalahannya, kita dapat merumuskan sebuah diagnosa. Sesak karena gangguan jalan nafas dengan sesak karena pusat nafasnya terganggu merupakan dua hal yang berbeda. Maka penulisannya berbeda. Tentu saja mengenai teknik penulisannya menurut bahasa yang ilmiah serta universal seperti NANDA tidak dibahas sekarang

Bersambung ke bagian 2

Read More......

NANDA : Risk for Activity Intolerance/Resiko Intoleransi Aktivitas

Resiko untuk Intoleransi Aktivitas (1982)

Definisi: 
Keadaan seseorang yang mempunyai resiko untuk megalami ketidakcukupan energi fisiologis maupun psikologis untuk menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktivitas sehari-hari.

Faktor resiko:
a. Tidak berpengalaman dalam aktivitas
b. Terlihat masalah sirkulasi/respirasi
c. Riwayat intoleransi sebelumnya
d. Status dekondisi

Berhubungan pada umumnya dengan penyakit 
a. Anemia
b. GAgal jantung kongestif
c. Penyakit katup jantung
d. Arithmia jantung
e. COPD
f. Gangguan metabolik
g. Gangguan muskuloskeletal

Mengenai penjelasan, silahkan lihat dalam pembahasan diagnosa Intoleransi Aktivitas/Activicty Intolerance

Read More......

NANDA : Activity Intolerance/Intoleransi Aktivitas

Intoleransi Aktivitas (1982)

Definisi:
Ketidak cukupan energi secara fisiologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktifitas sehari-hari


Batasan karakteristik :
a. Melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
b. Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
c. Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
d. Adanya dispneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas

Faktor yang berhubungan
a. Tirah baring atau imobilisasi
b. Kelemahan yang menyeluruh
c. Ketidakseimbangan antara suplai oksige dengan kebutuhan
d. Gaya hidup yang dipertahankan

Diagnosa klinik yang berhubungan
(Lihat diagnosa Risk for Activity Intolerance/Resiko Intoleransi Aktivitas)

Pembahasan :
Intoleransi aktivitas merupakan suatu diagnosa yang lebih mentikberatkan respon tubuh yang tidak mampu untuk bergerak terlalu banyak karena tubuh tidak mampu memproduksi energi yang cukup. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, untuk bergerak, kita membutuhkan sejumlah energi. Pembentukan energi dilakukan di sel, tepatnya di mitokondria melalui beberapa proses tertantu. Untuk membentuk energi, tubuh memerlukan nutrisi dan CO2. 

Pada kondisi tertentu, dimana suplai nutrisi dan O2 tidak sampai ke sel, tubuh akhirnya tidak dapat memproduksi energy yang banyak. Jadi, apapun penyakit yang membuat terhambatnya/terputusnya suplai nutrisi dan O2 ke sel, dapat mengakibatkan respon tubuh berupa intoleransi aktifitas.

Kita dapat melihat perbedaan orang sehat dengan yang mengalami intoleransi aktivitas adalah ketika mereka melakukan suatu gerakan. Bagi orang normal, berjalan dua tiga meter tidak merasa lelah, akan tetapi bagi pasien yang mengalami intoleransi, bergerak atau berjalan sedikit saja nafasnya sudah terengah-engah. Sudah kelelahan. Karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energi yang cukup untuk bergerak. Jadi, apapun penyakit yang membuat terhambatnya/terputusnya suplai nutrisi dan O2 ke sel, dengan kata lain mengganggu pembentukan energi dalam tubuh, dapat menimbulkan respon tubuh berupa intoleransi aktifitas.

Sebagai contoh 
• Anemia : kekurangan sel darah merah, membuat suplai O2 dan nutrisi sedikit ke sel. Karena yang bertugas membawa O2 dan nutrisi adalah sel darah merah.
• COPD – penyakit paru membuat jumlah O2 yang masuk ke tubuh menjadi berkurang, selain itu pada kasus yang sudah agak parah sehingga mengakibatkan asidosis membuat pengikatan O2 oleh darah/Hb menjadi kurang sempurna, sehingga jumlah O2 yang dihantarkan menjadi kurang.
• Gagal Jantung – Jantung bertugas untuk memompa darah ke seluruh tubuh, apabila jantung mengalami gangguan, maka darah yang membawa O2 dan nutrisi menjadi berkurang jumlahnya.sehingga produksi energy menjadi berkurang

Hati- hati tertukar dengan diagnosis dibawah ini

intoleransi aktivitas

berarti bahwa pasien dapat bergerak dengan bebas, tapi tidak dapat beradaptasi terhadap peningkatan kebutuhan energy karena pergerakannya.

Gangguan mobilitas fisik

pasien dapat bergerak dengan bebas apabila tidak ada gangguan/ batasan pada pergerakannya

intoleransi aktivitas

Pasien tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi tidak mampu bergerak banyak karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energy yang cukup.

Deficit perawatan diri

Tergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitasnya

Pasien mungkin membunyai diagnosa deficit perawatan diri karena intoleransi aktivitasnya

 

Intoleransi aktivitas

Pasien mau dan dapat berpartisipasi salam perawatan, tapi tidak mampu bergerak banyak karena tubuhnya tidak mampu memproduksi energy yang cukup.

Koping Individu Tidak efektif

pasien tidak dapat berpartisipasi dalam perawatan atau perannya karena mereka merasa kurang motivasi untuk melakukan suatu pekerjaan

 

Intoleransi Aktivitas

Pasien pada awalnya tidak merasa lelah, akan tetapi setelah melakukan aktivitas pasien langsung merasa lelah

Kelelahan

pasien merasa lemas dan lelah karena penyakitnya

 

Read More......

NANDA : Chronic Pain/Nyeri Kronis

Nyeri Kronis (1986,1996)

Definisi : 
Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Secara konstan atau hilang timbul, tanpa prediksi waktu kesembuhan, dan lebih dari 6 bulan. 

Batasan karakteristik :
a. Perubahan berat badan
b. Laporan secara verbal dan non verbal, atau laporan adanya tingkah laku melindungi, berjaga-jaga, muka topeng, iritabilitas, fokus pada diri sendiri, gelisah, depresi)
c. Atropi pada sekumpulan otot
d. Perubahan pola tidur
e. Kelelahan
f. Takut cedera kembali
g. Berkurangnya interaksi dengan orang lain
h. Ketidakmampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya
i. Respon simpatik (temperature, dingin, perubahan posisi tubuh, hipersensitivitas)
j. Anoreksia

Faktor yang berhubungan
a. Ketidakmampuan fisik kronis/psikososial

Berhubungan dengan diagnosa klinis
(Lihat Nyeri akut/Acute Pain)

Hati-hati Salah Menegakkan Diagnosis
(Lihat Nyeri akut/Acute Pain)

Penjelasan
Pada dasarnya, perawat membagi nyeri menjadi dua criteria, yaitu akut dan kronik. Perbedaan dasarnya hanya pada aspek prediksi waktu sembuh dan lamanya waktu sembuh.

Fisiologi perjalanan nyeri :
Reseptor nyeri yang jumlahnya jutaan di tubuh, menerima sensasi yang kemudian dibawa ke spinal cord yaitu pada daerah kelabu dilanjutkan ke traktus spinothalamikus selanjutnya ke korteks serebral. Mekanismenya sebagai berikut:
  • Alur nyeri dari tangan yang terbakar mengeluarkan zat kimia bradykinin, prostaglandin kemudian merangsang ujung reseptor saraf yang kemudian membantu transmisi nyeri dari tangan yang terbakar ke otak.
  • Impuls disampaikan ke otak melalui nervus ke kornu dorsalis pada spinal cord.
  • Pesan diterima oleh thalamus sebagai pusat sensori pada otak.
  • Impuls dikirim ke corteks dimana intensitas dan lokasi nyeri dirasakan.
  • Penurunan nyeri dimulai sebagai signal dari otak, turun melalui spinal cord.
  • Pada kornu dorsalis zat kimia seperti endorfin dikeluarkan untuk menurunkan nyeri.
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

Read More......
 

Sponsor Blog :

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent